Pernah tak korang perasan, orang Minangkabau ni kalau bercakap macam ada “rasa” dia sendiri? Bukan sekadar cakap, tapi penuh adab dan pertimbangan. Dalam budaya Minang, tutur kata tu dijaga betul-betul, sebab dari situlah orang menilai budi dan diri kita. Itulah sebabnya wujud satu pedoman yang dipanggil Langgam Kato Nan Ampek. Kenapa nama dia langgam kato nan ampek? Sebab pedoman ni ada empat..ialah:
- Kato Mandaki
Kalau bercakap dengan orang yang lebih tua, orang besar adat, atau ibu bapa, bahasa kita automatik jadi lebih lembut dan sopan. Inilah Kato Mandaki. Nada suara direndahkan, ayat dipilih elok-elok. Bukan sebab takut, tapi sebab tahu menghormati. Dalam hidup orang Minang, menghargai yang lebih tua itu asas.
- Kato Melereng
Bila bersembang dengan saudara sebaya atau kawan yang sama-sama kita hormati, cara bercakap pun berubah sikit. Kato Melereng ni bahasanya mesra, tak terlalu formal, tapi masih jaga adab. Dekat, tapi tak melampaui batas. Sebab hubungan yang baik lahir dari kata yang dijaga.
- Kato Mandata
Dengan kawan rapat atau orang yang betul-betul sederajat, barulah kita guna Kato Mandata. Cakap biasa-biasa saja, santai, dan terus terang. Tapi walaupun santai, sopan tetap kena ada. Orang Minang percaya, rapat bukan alasan untuk bercakap sesuka hati.
- Kato Manurun
Bila bercakap dengan anak-anak atau orang yang lebih muda, kata-kata diturunkan dengan penuh kasih sayang. Kato Manurun mengajar kita bercakap lembut, menasihati tanpa marah, dan mendidik tanpa menyakiti hati. Kerana setiap kata tu boleh jadi pelajaran untuk mereka.
Kalau you all tanya, mengapa Kato Nan Ampek Ini Penting?
Sebab empat langgam ni sebenarnya asas hidup bermasyarakat orang Minangkabau. Di dalamnya ada nilai rasa, perasaan, malu, dan sopan santun. Sebab tu orang yang tak pandai menempatkan kata sering dianggap “indak tau di nan ampek” tak tahu adat, tak tahu jaga diri.
Walaupun sekarang kita banyak berhubung melalui WhatsApp, Instagram, dan media sosial, nilai Kato Nan Ampek tetap relevan. Cara kita menaip, membalas mesej, atau meninggalkan komen pun sebenarnya mencerminkan adab kita.
With BMW 2002 Tour, melancong ke Minangkabau bukan sekadar jalan-jalan dan ambil gambar. Ia tentang memahami cara hidup, nilai, dan budaya yang masih dijaga hingga hari ini. Sebab bila kita tahu menjaga kata, perjalanan itu jadi lebih bermakna bukan cuma sampai ke tempat, tapi sampai ke hati orangnya.
WE GUIDE YOU TO BEAUTY
Penulis : Egie Aulia Rizky


